Sekarang ini di Indonesia, brand Xiaomi sudah menjadi brand smartphone yang sangat dikenal. Tetapi saat smartphone brand dari China ini diperkenalkan resmi di Indonesia 3 tahun lalu, selain kaum techie, atau mereka yang antusias dengan teknologi smartphone, dan simpatisan Mi fans, tidak banyak orang yang mengenal brand ini.
Adalah Hugo Barra, yang belum lama pindah dari Google dan bergabung dengan Xiaomi menjadi VP global, yang hadir langsung ke Indonesia untuk memperkenalkan produk resmi Xiaomi pertama di Indonesia. Bisa dikatakan Hugo Barra adalah langkah hebat Xiaomi untuk memperkenalkan brand ini mendunia, setelah sebelumnya nama Xiaomi telah berkibar di negerinya sendiri sebagai perusahaan startup yang paling berhasil, bahkan mendapat julukan Apple dari China.
Gaya Hugo yang asik, pengetahuannya yang luas, dan perhatiannya pada Mi fans, menjadi kelebihan brand Xiaomi untuk mudah diterima di Indonesia, terutama oleh kaum muda. Bahkan sekarang fans Xiaomi di Indonesia sendiri dikenal cukup “militan” dan penuh percaya diri bahwa brand Xiaomi adalah brand terbaik, bahkan memiliki tagar khas #MendingXiaomi .
Xiaomi pula yang memperkenalkan cara jualan yang unik, yang kemudian mewabah kepada brand lain, yang dikenal dengan nama flash sale, penjualan online dalam kuota tertentu dan waktu tertentu. Saat pertama Xiaomi melakukan flash sale di Indonesia lewat Lazada, website Lazada sempat down, tidak bisa diakses, karena diserbu ribuan orang secara bersamaan berebut membeli smartphone Xiaomi resmi perdana. Dalam hitungan jam atau menit, sekian ribu unit terjual saat flash sale menjadi prestasi tersendiri saat itu.
Produk Xiaomi menjadi menarik, karena saat itu apa yang disebut smartphone murah, kelas dan spesifikasinya juga murahan, sementara Xiaomi datang dengan spesifikasi dan build quality yang baik, tetapi harganya terjangkau.
Sampai sekarang masih banyak yang bertanya, mengapa harga Xiaomi bisa murah?, padahal spesifikasinya cenderung bagus di kelasnya. Dari hasil bertukar email, duduk ngobrol, dan barengan membongkar jeroan produk Xiaomi bersama Hugo Barra, ini beberapa petunjuk mengapa Xiaomi bisa dijual dengan harga murah.
1.Margin yang Tipis
Produk Xiaomi dijual dengan keuntungan yang tipis, bahkan menurut Hugo, kadang mereka menjualnya dengan harga modal. Kabarnya smartphone global lain memiliki margin keuntungan sekitar 20-35%, sementara Xiaomi hanya sekitar 5% saja.
Jadi bagaimana Xiaomi bisa mendapatkan untung?
Di China sendiri, Google, Facebook, dkk, dilarang pemerintah, sehingga smartphone android di China tidak memiliki aplikasi Google di dalamnya, termasuk toko aplikasi Google Playstore. Jadi buat mereka yang pernah mencoba Xiaomi BM dengan ROM asli China, akan melihat bahwa di dalamnya ada toko aplikasi dari Xiaomi sendiri. Toko aplikasi ini menghasilkan keuntungan lebih untuk Xiaomi, termasuk juga dari penjualan tema, wallpaper, dan lagu.
Xiaomi juga memperkenalkan mata uang virtual yang dikenal dengan Mi credit. Credit ini bisa dibeli dengan uang asli dan bisa dibelanjakan untuk tema, lagu, aplikasi, dll.
2. Jumlah Produk yang Terbatas dan Bertahap
Berbeda dengan Apple atau Samsung yang saat mendekati peluncuran produk baru sudah mempersiapkan jutaan smartphone untuk dijual, Xiaomi senantiasa melakukan penjualan berkala dalam jumlah terbatas, misalnya sekian puluh atau ratus ribu dalam setiap minggu.
Dengan cara ini produk baru Xiaomi tidak membutuhkan gudang inventory yang besar, mengurangi resiko, dan distribusi yang rumit. Setiap pabrik selesai memproduksi sekian ribu unit, bisa langsung dijual ke konsumen.
3. Varian dan Umur Produk
Dengan cara produksi bertahap seperti pada nomor 2 di atas, diharapkan seiring waktu harga komponen juga semakin murah, sehingga ada margin lebih untuk Xiaomi. Semakin sebuah jenis smartphone bertahan lama, terus ada dan diterima pasar, semakin baik margin yang diterima karena cenderung menurunnya harga komponen, yang bisa juga digunakan untuk memangkas harga jual sehingga bisa semakin menarik.
Saat awal, satu jenis smartphone Xiaomi bisa bertahan lama, setahun bahkan lebih, tetapi sekarang ini karena persaingan smartphone semakin ketat, umur sebuah jenis smartphone untuk terus diminati semakin pendek. Untuk itu sekarang dalam satu produk yang sama, Xiaomi juga membuat lebih banyak varian, agar bisa lebih lama bertahan. Misal setelah produk Redmi anu, akan ada varian Redmi anu A, Redmi anu X, atau Redmi anu Pro. Sehingga nantinya seri Redmi anu ini, yang dibuat dengan bentuk yang sama tapi berbeda dalam penggunaan komponen di dalam setiap varian, bisa eksis lebih lama dan diserap lebih banyak pasar. Makanya kita akan menemukan dalam seri yang sama, smartphone dengan chip prosesor yang berbeda, misal Mediatek atau Qualcomm, jumlan RAM yang berbeda, hingga resolusi layar yang berbeda.
4. Penjualan Online
Xiaomi pertama kali benar-benar mengandalkan penjualan online, tanpa toko fisik. Karena toko fisik berarti membutuhkan biaya lain, seperti biaya sewa, pekerja, listrik, transport, inventory, dll, yang akhirnya akan membebani harga jual yang harus lebih tinggi.
Tetapi akhirnya gaya jualan online ini juga memiliki keterbatasan, karena belum semua orang mengenal dan berani membeli secara online. Belum lagi masih banyak orang yang baru bisa memutuskan membeli, setelah memegang dan mencoba unit aslinya.
Sekarang ini Xiaomi sedang giat membangun toko fisik, dan di Indonesia sendiri, sekarang penjualan cara flash sale sudah tergantikan dengan tersedianya Xiaomi di banyak gerai offline.
5. Minim Iklan dan Artis
Selain di internet dan sosial media, akan jarang sekali kita melihat iklan Xiaomi muncul di surat kabar, majalah, televisi, atau terpampang besar pada papan-papan reklame. Karena setiap iklan adalah biaya tambahan yang harus diperhitungkan dalam harga jual smartphone. Demikian juga dengan penggunaan artis untuk mempromosikan smartphone. Walau penggunaan artis juga bisa menarik lebih banyak perhatian calon konsumen, tetapi menyewa artis atau ambassador, semakin terkenal, semakin mahal biaya yang harus dikeluarkan.
Xiaomi berusaha menghindari hal ini dan memilih menggunakan sarana beriklan di internet atau media sosial.
6. Mi Fans
Mi fans sendiri adalah salah satu ujung tombak marketing Xiaomi, karena penggemar dan pengguna yang puas, akan dengan senang hati memperkenalkan produk Xiaomi kepada orang lain, dan cenderung loyal terhadap brand. Mi fans mempunyai kedudukan yang spesial untuk Xiaomi, dan jarang ada brand lain yang bisa membentuk banyak kelompok fans di tiap kota yang senantiasa berkegiatan aktif.
Mi fans juga yang banyak dipacu untuk memperkaya konten Xiaomi, misalnya membuat tema sesuai daerah atau kebangsaannya. Mi Fans juga yang membantu Xiaomi membuat terjemahan bahasa untuk firmwarenya. Banyak Mi Fans yang pandai juga turut serta mengembangkan varian custom ROM untuk produk Xiaomi, mengelola forum, membantu memberikan tutorial kepada pengguna baru, dan lain sebagainya. Dengan bantuan Mi fans, Xiaomi tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk mempekerjakan banyak profesional.
7.Produk yang Cermat
“Setiap 50 sen adalah berharga”, begitu kata Hugo Barra sambil memperlihatkan sebuah kabel pipih ketika bersama membongkar jeroan smartphone Xiaomi. “Walaupun terlihat sepele, harga konektor kabel ini hanya 50 sen (atau anggaplah 5 ribu rupiah di mata uang kita) , tetapi jika dikalikan sekian ratus ribu atau jutaan unit produk, maka akan menjadi jutaan dollar” lanjut Hugo.
Maka team Xiaomi harus memastikan, apakah sebuah konektor yang memudahkan saat service perlu ada, atau kabel tersebut cukup langsung disolder saja. Begitu juga penggunaan motherboard, apakah kedua sisinya bisa dipasangkan komponen berbarengan untuk menghemat biaya, sekaligus meringkas tempat. Lebih murah mana dalam produksi, jack earphone dipasang di bagian atas atau bawah smartphone?
Semua ini dipertimbangkan untuk memangkas harga produksi, sehingga smartphone bisa dijual dengan harga yang lebih terjangkau.
Itu beberapa point yang diceritakan Hugo Barra, sebagai tips and trick bagaimana harga smartphone Xiaomi bisa ditekan lebih murah.
Saat ini kemampuan membuat produk yang mumpuni secara spesifikasi dan harga tetap terjangkau tidak saja dimiliki Xiaomi, tetapi banyak brand lain dari China juga sanggup melakukannya.
Apa yang dibuat Xiaomi juga ditiru brand lain, sehingga membuat persaingan pasar smartphone dengan genre yang sama menjadi lebih sesak. Karena persaingan ini pula Xiaomi yang sedang menanjak dengan cepat, mengalami hambatan tidak bisa memenuhi rencana target penjualan yang ditetapkan di tahun 2015 dan 2016, dan terpaksa terlempar dari 5 besar brand yang menguasai market share smartphone di dunia.
Apakah ke depan Xiaomi yang “dipaksa” berkompromi dengan cara marketing yang lebih konvensional, menyediakan toko offline lebih banyak, beriklan di media lain, dan mulai melirik artis, akan tetap bisa mempertahankan harga murahnya?
Sementara itu, Hugo Barra juga sudah hengkang dari Xiaomi dan bergabung ke Facebook. Apakah langkah ini juga menghambat ekspansi Xiaomi memperbesar pasar ke negara lain?
Kita tunggu kiprah menarik Xiaomi selanjutnya.



0 comments:
Post a Comment